Minggu, Februari 15, 2026
Jepara

Jamaludin Malik, S.H.  Serap Aspirasi Masyarakat Jepara Melalui ASMAS MPR RI dengan Tema “Ekonomi Kerakyatan yang Berkeadilan

Jepara, 22 April 2025

Lebih dari 150 warga yang terdiri dari petani padi, petani garam, nelayan, masyarakat pesisir, perajin ukir, pengusaha meubel, pekerja tenun ikat dan berbagai elemen masyarakat lainnya memadati Gedung Mini Soccer Kecamatan Kedung, Desa Menganti, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada Selasa (22/4/2025). Mereka hadir dalam kegiatan Aspirasi Masyarakat (ASMAS) MPR RI yang diselenggarakan oleh Jamaludin Malik, S.H., Anggota Fraksi Partai Golkar (FPG) DPR RI Dapil Jawa Tengah II yang meliputi Kabupaten Jepara, Kudus, dan Demak.

Kegiatan yang mengangkat tema “Ekonomi Kerakyatan yang Berkeadilan” ini bertujuan untuk menyerap aspirasi masyarakat terkait dengan kondisi perekonomian di tingkat akar rumput, khususnya di wilayah pesisir utara Jawa Tengah yang memiliki keunikan ekonomi dengan berbagai sektor unggulan seperti perikanan, pertanian, dan industri kreatif.

Jamaludin Malik dalam sambutannya menegaskan pentingnya dialog langsung dengan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat. “ASMAS MPR RI merupakan jembatan komunikasi antara rakyat dengan para wakil rakyatnya. Melalui kegiatan ini, saya ingin mendengarkan langsung aspirasi, keluhan, harapan, dan masukan dari bapak, ibu sekalian untuk kemudian dibawa ke tingkat pusat sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan,” ujar Jamaludin Malik.

Politisi Golkar yang akrab disapa JM ini juga menyoroti pentingnya konsep ekonomi kerakyatan yang berkeadilan, terutama di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah. “Ekonomi kerakyatan bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi landasan konkret dalam setiap kebijakan ekonomi nasional. Ekonomi kerakyatan memberikan ruang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dan menikmati hasil pembangunan secara adil dan merata,” tambahnya.

Keluhan dan Aspirasi Beragam Sektor

Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih empat jam tersebut dipenuhi dengan diskusi hangat dan dinamis. Beragam keluhan dan aspirasi disampaikan oleh peserta yang hadir, mencerminkan kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi oleh berbagai sektor di wilayah Jepara.

Sariman, seorang petani padi dari Desa Bugel, mengungkapkan keprihatinannya terkait harga pupuk yang terus meningkat sementara harga gabah cenderung fluktuatif. “Kalau musim panen, harga gabah turun drastis, Pak. Tapi biaya produksi tetap tinggi. Belum lagi masalah irigasi yang sering menjadi kendala. Kami berharap ada kebijakan stabilisasi harga dan dukungan infrastruktur pertanian yang lebih baik,” ungkapnya.

Senada dengan Sariman, Mukhlisin, petani garam dari Kecamatan Kedung, juga menyampaikan kesulitan yang dihadapi para petani garam lokal akibat masuknya garam impor. “Produksi garam kami tidak bisa bersaing dengan garam impor yang harganya lebih murah. Padahal kami sudah berjuang keras memproduksi garam dengan kualitas terbaik. Kami butuh perlindungan pasar dan dukungan teknologi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas,” jelasnya.

Sementara itu, Suminah, seorang perajin tenun ikat Troso yang telah menekuni usahanya selama lebih dari 20 tahun, mengungkapkan kesulitannya dalam mengakses modal dan pasar yang lebih luas. “Kami ingin mengembangkan usaha, tapi sulit mendapatkan pinjaman modal dengan bunga rendah. Selain itu, pemasaran produk kami masih terbatas padahal potensinya sangat besar, terutama untuk pasar ekspor,” tuturnya.

Dari sektor perikanan, Hariyanto, ketua kelompok nelayan dari Desa Ujungbatu, menyoroti mahalnya biaya melaut dan ketidakpastian harga jual ikan. “Harga BBM untuk melaut semakin mahal, Pak. Belum lagi alat tangkap yang harganya selangit. Sementara itu, harga ikan sangat ditentukan oleh tengkulak. Kalau tangkapan sedang banyak, harganya anjlok. Kami berharap ada sistem yang lebih adil dalam rantai distribusi hasil laut,” paparnya.

Aspirasi juga datang dari sektor industri mebel yang menjadi ikon Jepara. Sukirman, pengusaha mebel ukir dari Kecamatan Tahunan, mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan baku kayu berkualitas dan mahalnya biaya ekspor. “Industri mebel Jepara sudah terkenal hingga mancanegara, tapi kami sering kesulitan mendapatkan kayu berkualitas dengan harga terjangkau. Ditambah lagi, proses ekspor yang rumit dan mahal membuat daya saing produk kami menurun di pasar global,” jelasnya.

Solusi Konkret untuk Ekonomi Kerakyatan

Menanggapi berbagai keluhan dan aspirasi tersebut, Jamaludin Malik memaparkan beberapa langkah konkret yang akan diperjuangkannya di tingkat pusat. Pertama, mendorong revitalisasi koperasi dan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan. “Koperasi perlu diperkuat kembali sebagai lembaga ekonomi yang benar-benar melindungi dan menguntungkan anggotanya. Kita akan mendorong modernisasi koperasi dengan penerapan teknologi digital dan manajemen profesional tanpa meninggalkan prinsip-prinsip gotong royong,” jelasnya.

Kedua, Jamal berkomitmen untuk memperjuangkan regulasi yang lebih berpihak pada pelaku ekonomi lokal. “Kita akan mendorong kebijakan proteksi yang tepat untuk produk-produk lokal, termasuk garam, hasil perikanan, dan produk pertanian lainnya. Ini bukan anti-impor, tapi bagaimana menciptakan keseimbangan yang adil antara produk lokal dan impor,” tegasnya.

Ketiga, peningkatan akses permodalan dengan bunga rendah untuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM. “Saya akan mendorong penguatan lembaga keuangan mikro dan program kredit khusus dengan persyaratan yang lebih mudah dan bunga yang terjangkau. Selain itu, program bantuan modal bergulir perlu diperluas jangkauannya,” ujarnya.

Keempat, pembangunan infrastruktur ekonomi yang mendukung produktivitas sektor riil. “Infrastruktur seperti irigasi untuk pertanian, cold storage untuk perikanan, hingga sentra produksi untuk industri kreatif perlu menjadi prioritas pembangunan. Dengan infrastruktur yang memadai, efisiensi produksi akan meningkat dan biaya produksi bisa ditekan,” jelasnya.

Kelima, penguatan rantai pasok dan pemasaran produk lokal. “Kita perlu memotong rantai distribusi yang terlalu panjang yang sering merugikan produsen di tingkat akar rumput. Pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran langsung dan ekspansi pasar juga perlu didorong,” tambahnya.

Komitmen Tindak Lanjut

Jamaludin Malik tidak hanya memberikan janji-janji kosong. Di penghujung acara, ia menyampaikan komitmennya untuk menindaklanjuti semua aspirasi yang masuk dengan langkah-langkah konkret. “Semua aspirasi yang disampaikan hari ini akan saya catat, rangkum, dan bawa ke rapat-rapat komisi di DPR RI. Saya juga akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait dan pemerintah daerah untuk mencari solusi yang tepat dan cepat,” tegasnya.

Jamal juga berjanji untuk membentuk tim khusus yang akan secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi terhadap tindak lanjut aspirasi masyarakat. “Saya akan membentuk tim yang terdiri dari staf ahli dan relawan untuk memantau perkembangan penanganan aspirasi masyarakat. Tim ini juga akan secara rutin memberikan laporan kepada masyarakat tentang progres yang telah dicapai,” jelasnya.

Lebih jauh, politisi yang dikenal dekat dengan konstituennya ini mengatakan bahwa ASMAS MPR RI bukanlah kegiatan satu kali, melainkan bagian dari program kerja berkelanjutan. “Kegiatan seperti ini akan terus kita lakukan secara rutin di berbagai wilayah di Dapil Jawa Tengah II. Tujuannya agar saya bisa tetap terhubung dengan aspirasi masyarakat dan memastikan bahwa suara rakyat benar-benar didengar di tingkat pusat,” ungkapnya.

Respon Positif Masyarakat

Kegiatan ASMAS MPR RI yang diselenggarakan oleh Jamaludin Malik mendapat respon positif dari masyarakat yang hadir. Hasan Bisri, tokoh masyarakat Desa Menganti, mengapresiasi kehadiran langsung anggota DPR RI di tengah-tengah masyarakat. “Ini pertama kalinya kami kedatangan anggota DPR RI yang benar-benar mau mendengarkan keluhan kami secara langsung dan tidak terburu-buru. Biasanya kan hanya datang saat kampanye saja,” ungkapnya.

Siti Maimunah, ketua kelompok pemberdayaan perempuan di Kecamatan Kedung, juga mengungkapkan kegembiraannya bisa berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. “Kami sangat senang bisa menyampaikan aspirasi langsung kepada Pak Jamal. Harapan kami tentu saja aspirasi ini benar-benar ditindaklanjuti, tidak hanya dicatat saja,” harapnya.

Sementara itu, Ahmad Sobirin, akademisi dari salah satu perguruan tinggi di Kudus yang turut hadir sebagai pengamat, menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk demokrasi deliberatif yang perlu diapresiasi. “ASMAS seperti ini merupakan bentuk ideal dari komunikasi politik antara wakil rakyat dengan konstituennya. Dialog dua arah seperti ini sangat penting untuk memastikan kebijakan publik yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” komentarnya.

Di penghujung acara, Jamaludin Malik mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga komunikasi dan kerja sama demi terwujudnya ekonomi kerakyatan yang berkeadilan. “Mari kita bangun ekonomi kerakyatan ini bersama-sama. Saya hanya salah satu instrumen, tapi gerakan untuk membangun ekonomi yang lebih adil dan merata harus menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan ASMAS MPR RI ditutup dengan penyerahan simbolis bantuan sarana produksi kepada beberapa kelompok tani, nelayan, dan perajin sebagai bentuk komitmen konkret Jamaludin Malik dalam mendukung ekonomi kerakyatan di wilayah Jepara. Selain itu, dibentuk juga forum komunikasi lintas sektor yang akan secara berkala melakukan pertemuan untuk memantau tindak lanjut aspirasi yang telah disampaikan dalam kegiatan tersebut. Dengan berakhirnya kegiatan ASMAS MPR RI di Kecamatan Kedung ini, masyarakat Jepara berharap suara mereka benar-benar didengar dan ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Sebagaimana diungkapkan oleh Jamaludin Malik, ekonomi kerakyatan yang berkeadilan bukanlah sekadar konsep atau wacana, melainkan harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan ekonomi berbangsa dan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *